RIZA RAHMAN HAKIM BLOG

Developing Islamic Civilization Through Knowledge and Science

Search

Senin, 26 Mei 2008

LIPI Temukan Probiotik Budidaya Perikanan

Daily, 22 April 2008
Bioteknologi probiotik temuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan pro¬biotik yang siap menggantikan pemakaian antibiotik dan obat-obatan lain pada budidaya perikanan pantai maupun tambak di Indonesia. Ruyitno Nuchsin, profesor kepala laboratorium mikrobiologi laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI mengungkapkan, bakteri probiotik temuan mereka itu telah layak diproduksi dalam skala massal. "Ini masa depan baru bagi penanganan penyakit ikan. Untuk mengatasi serangan penyakit bakteri patogen nantinya tidak perlu lagi menggunakan antibiotik, tetapi cukup dengan diberi suplemen makanan probiotik yang isinya bakteri baik yang akan membunuh bakteri jahat tersebut," kata Ruyitno kepada Investor Daily di ruang kerjanya, belum lama ini. Menurut Ruyitno, skala ekonomi probiotik ini harganya 50% lebih murah dibanding harga obat-obatan dan antibi¬otik yang selama ini digunakan industri tambak maupun tambak rakyat. Selain harga¬nya jauh lebih murah, probi¬otik ini tidak menghasilkan residu. Sebab, umur bakteri probiotiknya juga pendek hanya beberapa hari saja. Karenanya, pemakaian probiotik ini zerro efek samping. "Tidak seperti pemakaian antibiotik. Ikan yang diberi obat antibiotik, di tubuhnya akan mengandung antibiotik itu. Itu sebabnya Komisi Eropa menolak ekspor Indonesia karena mereka takut konsumennya menjadi resisten (kebal) terhadap produk antibio¬tik," jelas dia. Sebelumnya, Dirjen Produksi Budidaya Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan Made L Nurdjana mengatakan, In¬donesia berencana menghapuskan secara total penggunaan antibiotik dalam pengembangan budidaya perikanan di berbagai daerah. Komitmen ini disampaikan sebagai grand kebijakan peri¬kanan Indonesia di hadapan The Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) di Sanur Bali, awal April ini. SEAFDEC merupakan lembaga otonom lintas pemerintah di lingkungan ASEAN untuk mendorong pembangunan sektor perikanan di Asia Tenggara. "Penghapusan penggunaan antibiotik tersebut dilakukan melalui beberapa cara, antara lain meningkatkan mutu air dan lingkungan tempat dilakukannya budidaya," kata Made. Upaya lain, kata Made, adalah penggunaan sistem oksigenisasi pada areal tambak, sehingga ikan atau udang dapat bertahan hidup dan berkembang dengan lebih baik. (kzy)

Tidak ada komentar: